-
SKACI
Sekolah Komputer Anak Cinta Indonesia
Bermain adalah hak anak. Membuatnya hebat dan berprestasi adalah kewajiban orangtua. Membimbing anak bermain agar jadi jago IT/Komputer adalah tugas kami

-
Fahma-Hania
Karya-karya Fahma-Hania
Aplikasi-aplikasi buatan Fahma-Hania

-
SiGokil
Capture beautiful moments, interesting sights, something weird, accidents, crimes, or just yourself and share from your exact position. Sell or find stuff near you, and bid or offer using this app. Track your children, spouse, even your vehicles

-
SiGokil Solutions
Give implementable mobile solutions to accommodate the needs of mobile reporting, mobile surveying, mobile monitoring, mobile tracking, and back-end analyzing, to improve efficiency and effectiveness

-
ACI Corporation
Attentive Creations International is a mobile and web applications developer. We develop perfection in all applications we built. We have been the biggest part of industries solutions.

|
Mei18
Sahabatku…beberapa hari yang lalu saya mengikuti acara di sebuah biro konsultasi psikologi yang ada di Bandung, tepatnya dalam acara tersebut membahas tentang peran orangtua terhadap anak remaja. Berdasarkan hasil pembicaraan dalam acara tersebut, ada beberapa hal penting yang perlu orangtua lakukan terhadap anak remaja, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pendampingan.
Jika dilihat secara fisik, tubuh anak remaja akan terlihat besar, tetapi walaupun ia sudah besar, ia tetap masih perlu pendampingan dari orangtuanya berupa saran, bimbingan dan nasehat. Pada saat inilah orangtua harus lebih banyak mengajarkan anak untuk dapat hidup lebih mandiri. Bukan sebaliknya, karena anak sudah dianggap lebih besar, orangtua ‘melepas’nya begitu saja tanpa bimbingan dan arahan.
Sejatinya, masa remaja adalah masa yang sangat rawan untuk seorang anak. Secara emosional ia masih labil, sehingga ia sangat membutuhkan dukungan dan arahan dari orangtuanya. Banyak anak remaja yang akhirnya terjerumus ke dalam pergaulan bebas, narkoba dan ikut-ikutan sebuah geng motor karena kurang bimbingan dan arahan dari orangtuanya. Dalam kondisi kurang bimbingan orangtua, seorang remaja boleh jadi akan merasa hidupnya hampa dan tidak puas, ia merasa tidak diperhatikan/dipedulikan dan juga tidak didengar. Di lain pihak, mungkin sikap orangtua tidak banyak berbicara atau terlibat dengan remaja karena mereka menganggap anaknya sudah dewasa dan mandiri sehingga mereka membiarkan atau melepaskan anak begitu saja bergaul dalam lingkungan yang tidak jelas.
Perlu orangtua ketahui, walaupun ia sudah besar, sebagai orangtua tetap harus selalu memperhatikannya, membimbingnya dan mengajaknya berkomunikasi supaya sekecil apapun perubahan yang terjadi pada anak atau sekecil apapun masalah yang terjadi pada anak dapat segera terselesaikan. Anak yang selalu mendapatkan solusi untuk setiap masalah yang sedang terjadi pada dirinya akan mampu hidup lebih percaya diri, mandiri, dan lebih berhasil. (yer)
2. Komunikasi
Ketika suatu masalah yang sedang kita hadapi dapat dikomunikasikan dengan baik, perasaan kita akan terasa lebih tenang, begitu juga yang dirasakan oleh setiap orang termasuk oleh anak remaja.
Menjaga komunikasi dengan baik antara orangtua dengan anak sangatlah penting. Dengan demikian, segala hal yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh kedua belah pihak, antara anak remaja dengan orangtua akan selalu tersampaikan sehingga dapat terhindar dari kesalahfahaman yang menyebabkan antara orangtua dengan anak menjadi tidak harmonis.
Ketika komunikasi telah terjalin dengan baik antara anak dengan orangtua, dapat membuat kedua belah pihak saling terbuka , tidak perlu lagi ada yang dirahasiakan atau dikhawatirkan dapat menyinggung perasaan, baik dari anak kepada orangtua maupun sebaliknya, hal ini karena kedua belah pihak sudah saling terbuka dan saling memahami satu dengan yang lainnya. (yer)
3. Kepercayaan
Berikanlah kepercayaan kepada anak sesuai dengan usianya. Hal ini supaya anak dapat terus meningkatkan kemampuannya sehingga ia dapat hidup mandiri. Orangtua dapat sedikit demi sedikit memberi keparcayaan kepada anak mulai dari hal yang dianggap ringan sampai yang cukup rumit. Sebelum memberikan kepercayaan penuh kepada anak, tentunya orangtua harus memberikan contoh terlebih dahulu, mengajarkan, atau membekalinya terlebih dahulu dengan ilmunya, misalnya berupa nasehat. Orangtua dapat mulai memberikan kepercayaan kepada anak remaja untuk mengelola sendiri uang jajannya, memberikan kepercayaan kepada anak untuk mencoba menggunakan transportasi umum bersama temannya atau mengizinkan anaknya pergi jalan untuk beberapa jam bersama teman-temannya, tentu teman-temannya yang sudah orangtua kenal.
Ketika anak sedikit-sedikit diberi kepercayaan dari orangtua dan ia mampu untuk dipercaya, maka akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untuk sang anak. Ia akan merasa dirinya benar-benar sudah dewasa dan mandiri, ia akan merasa senang karena semakin banyak hal yang dapat ia kerjakan sendiri tanpa harus menunggu atau terlalu ketergantungan kepada orang lain. (yer)

Apr25
Walaupun informasi sudah lebih banyak dan mudah didapat, namun masih banyak para orangtua di lingkungan kita yang belum memahami betapa pentingnya membesarkan serta membimbing anak-anak secara ikhlas dan sungguh-sungguh.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Ada banyak hal yang menyebab para orangtua tidak dapat maksimal mencetak anak yang baik, sesuai dengan harapan orangtuanya. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah karena orangtua tidak cukup waktu memperhatikan dan mengurus anak-anaknya karena sibuk bekerja. Ada juga orangtua yang tidak terlalu sibuk tetapi tidak tahu harus bagaimana membesarkan anak-anaknya. Selain itu, ada juga orangtua yang tahu bagaimana ia harus membesarkan dan membimbing anak-anaknya, tetapi ia tidak mau melakukannya.
Sejatinya, mendampingi dan mendidik anak bukanlah pekerjaan yang mudah. Dalam melakukan pekerjaan ini diperlukan sikap tanggung jawab, niat yang ikhlas dan juga sifat yang sabar, karena banyak hal yang perlu dilakukan berulang-ulang, misalnya ketika anak harus selalu diingatkan, orangtua harus terus menasehatinya.
Kita sepakat bahwa setiap anak adalah unik dan berbeda. Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi orangtua dapat memahami sifat dan karakter masing-masing anak. Memahami karakter setiap anak dapat memudahkan orangtua dalam mengarahkan dan membimbing anak-anaknya. Membesarkan anak yang satu dengan yang lainnya sering kali harus dengan pendekatan yang berbeda. Misalnya, anak yang pertama memiliki sifat yang lebih sensitif daripada anak yang bungsu, pendekatannya tentu akan kurang sesuai jika dilakukan dengan cara yang keras, begitu juga sebaliknya.
Membesarkan anak dengan sungguh-sungguh memang perlu pengorbanan yang tidak sedikit. Orangtua perlu berkorban waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan juga materi untuk menafkahinya. Tetapi, yakinlah bahwa segala pengorbanan yang diberikan untuk mendampingi anak tersebut, cepat atau lambat akan segera kita petik hasilnya. Seperti tercantum dalam buku karya Ali Hasan (2011) menyatakan bahwa sesungguhnya segala proses yang dilakukan orangtua dalam mendidik anak merupakan proses yang menjamin diri orangtua itu sendiri. Keberhasilan orangtua dalam mendidik anaknya searah dengan jaminan bagi diri orangtua tersebut. Sehingga, seharusnya orangtua tidak lalai dalam proses mendidik anak. Sebab, ia melakukan pekerjaan tersebut semata-mata untuk keberuntungan dirinya sendiri, baik di dunia maupun di akhirat.
Jaminan di dunia, orangtua yang telah berhasil mencetak anaknya menjadi seseorang yang baik di mata keluarga dan juga lingkungannya, orangtua tersebut akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan yang berimbang dengan keberhasilan yang dicapai oleh anaknya tersebut di dunia. Misalnya, ketika seorang anak soleh itu berhasil dalam meraih kehidupannya di dunia, kecil sekali kemungkinannya membiarkan orangtuanya berada dalam penderitaan. Minimal orangtuanya tersebut akan mendapatkan kebahagiaan berupa materi dari anaknya.
Jaminan di akhirat. Ketika orangtua meninggalkan anak soleh, seperti yang dijanjikan oleh Alloh SWT, orangtua tersebut akan ditinggikan derajatnya (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Baihaqi) dan akan selamat dari siksa neraka (HR. Baihaqi). (yer)

Apr16
Kewajiban orangtua mendidik anak bukan hanya ketika anak masih usia bayi hingga pra sekolah saja, sesungguhnya orangtua wajib mendidik anak sepanjang masa sesuai dengan kebutuhan anak tersebut.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab mendidik anak kepada pihak sekolah ketika anak mulai bersekolah tentu keputusan yang kurang bijak. Di sekolah pada umumnya guru akan lebih fokus mengajarkan ilmu-ilmu akademis daripada pendidikan akhlak atau budi pekerti. Hanya sedikit saja waktu guru di kelas mengajarkan anak mengenai akhlah, itu pun mungkin hanya pada saat anak menerima pelajaran tentang agama.
Baik dan buruknya perilaku anak sangat tergantung pada bagaimana orangtuanya mendidik dan membesarkannya. Orangtua tidak dapat berharap anak-anaknya menjadi seseorang yang baik dan berbudi luhur hanya karena sudah menyekolahkan anaknya di sekolah yang mahal dan terkenal. Banyak sekali hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku dan emosi anak selama anak di sekolah. Pergaulan anak dengan teman-teman yang lainnya dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Keterbatasan waktu dan banyaknya anak didik di sekolah menyebabkan guru tidak dapat fokus mendidik atau mengajarkan akhlak dan budi pekerti secara orang perorangan. Oleh karena itu, campur tangan orangtua dalam mendampingi, mengasuh dan mendidik anak sangatlah penting (Umi Munawaroh:2011). Orangtua harus peduli dan tanggap terhadap pendidikan anak terutama yang berhubungan dengan kebutuhan jiwanya, seperti menanamkan sifat jujur, disiplin, tanggung jawab, mengajarkan bagaimana mengelola emosi dan perasaannya, merasa dicintai dan disayangi. Dengan demikian anak akan faham mana yang benar dan mana yang salah, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Dengan pola asu yang baik, anak akan merasa tenang, senang dan percaya diri. Anak yang dibesarkan oleh orangtua dengan penuh cinta, perhatian dan kasih sayang akan membuat anak mampu menyayangi dan mencintai orang-orang yang ada di sekitarnya.
Pada dasarnya, pengasuhan dan pengawasan orangtua pada anak seperti sebuah saringan yang dapat memisakan sesuatu yang bermanfaat dengan yang tidak. (yer).

Apr2
Kasih sayang orangtua dan kebersamaan dalam keluarga ternyata tidak mudah digantikan. Berikut adalah kasus nyata yang dialami oleh teman saya.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Jarak yang cukup jauh antara tempat tinggal dengan sekolah anak membuat sang ibu merasa khawatir sang anak akan terlalu lelah di jalan. Akhirnya, ibu memutuskan untuk menitipkan anaknya pada kedua orangtuanya (kakek dan neneknya). Pertimbangannya, rumah kakek dan neneknya tidak terlalu jauh dari sekolah anaknya, ia adalah cucu pertama yang sangat dinantikan, selain itu mereka sangat menyayangi sang cucu. Sering kali mereka memenuhi segala hal yang diinginkan sang cucu.
Tapi sayang, beberapa bulan berlalu kondisi anak tidak seperti yang diperkirakan. Laporan dari sekolah menyatakan bahwa sang anak hampir setiap hari murung dan bahkan nilai prestasi belajarnya pun cenderung menurun. Laporan tersebut membuat sang ibu merasa tak percaya dan bertanya-tanya mengapa bisa seperti ini.
Setelah berdiskusi cukup lama dengan guru, kondisi anak seperti ini diperkirakan ada hubungannya dengan jiwa anak. Akhirnya, demi kebaikan semua, terutama sang anak, ibu dan keluarga sepakat untuk membawa kembali sang anak tinggal bersama keluarga, tidak dengan nenek-kakeknya lagi.
Sejak ia tinggal bersama keluarga, ia tampak ceria, sehat dan selalu semangat pergi ke sekolah. Ia mengungkapkan isi perasaanya bahwa ia lebih senang berkumpul dengan kedua orangtua dan adik-adiknya. Sang anak tidak merasa lelah walaupun jarak perjalanan cukup jauh harus ditempuh setiap hari.
Dari kasus tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa orangtua bijak sebaiknya bermusyawarah terlebih dahulu sebelum menetapkan suatu keputusan, terlebih untuk kebaikan sang buah hati. Libatkanlah sang anak dalam pembicaraan tersebut, boleh jadi anak tidak ingin dipisahkan. (yer)

Mar5
 Ilustrasi: www.123rf.com
- Maksimalkan peran orangtua dalam memberikan bimbingan, arahan, teladan, dan pendampingan. Tanamkan nilai-nilai luhur agama agar menjadi tameng abadi bagi anak dalam menyikapi berbagai hal dalam kehidupan ini, termasuk dalam menyikapi game. Dampingi anak saat mereka bermain game, sesekali ikut juga bermain agar orangtua memiliki sedikit pengetahuan mengenai apa yang anak mainkan.
- Tanamkan disiplin kepada anak. Buatkan jadwal kegiatan, dalam hal ini untuk mengatur waktu anak bermain game dan kegiatan lain. Libatkan anak untuk aktif di kegiatan lain selain bermain game, yang dapat berupa kegiatan sosial, olah raga, kesenian, dan sebagainya. Khusus untuk kegiatan bermain komputer, arahkan agar anak melakukan hal-hal yang kreatif (mencipta, menghasilkan karya), bukan hanya yang konsumtif (menggunakan karya orang lain, termasuk bermain game). Tantang dan bimbing anak agar dapat membuat game, tidak hanya bermain game. Jika orangtua tidak mampu melakukan ini, atau tidak punya waktu yang cukup, delegasikan kepada guru les atau tempat kursus yang cocok. Dengan didasari kebijakan dan kasih sayang, lakukan metode “carrot and stick”: apresiasi saat anak kreatif, ingatkan, atau bahkan beri “sanksi yang bijak” saat mereka konsumtif, apalagi berlebihan.
- Tempatkan komputer atau perangkat game di ruang keluarga, dan tidak di kamar pribadi anak. Tujuan utamanya adalah agar selalu ada keterbukaan di antara sesame anggota keluarga dan terciptanya situasi saling mengawasi secara positif.
- Berikan pengertian kepada anak agar bergaul dengan teman-teman yang baik. Hindarkan anak dari pergaulan dengan rekan-rekannya yang pecandu game. [yr&yer]

Feb28
Melihat sang buah hati terlahir dengan kondisi sehat adalah kebahagiaan yang tak terhingga. Berikut adalah beberapa hal penting selain dengan banyak melakukan ibadah dan berdo’a kepada Yang Maha Pemberi Kesempurnaan juga terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh ibu yang sedang mengandung agar sang bayi dapat tumbuh dan berkembang optimal, misalnya dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, menjaga kandungan dengan baik dan tidak mengkonsumsi obat-obatan, rokok atau alkohol.

- Ilustrasi: www.123rf.com
Anak yang sehat dan cerdas adalah harapan semua orangtua. Supaya orangtua memiliki anak yang baik maka orangtua juga harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, yaitu merawat dan menjaga bayi sejak ia masih dalam kandungan. Oleh karena itu, bagi ibu yang sedang hamil dan menyusui, penting kiranya mengetahui hal-hal apa saja yang dapat mempengaruhi janin. Dengan demikian, ibu bisa mengetahui dan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merusak janin (yer).
Di bawah ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan janin (Wiwien:2008), di antaranya:
- Usia ibu ketika hamil. Usia yang rentan terhadap kelainan kehamilan adalah usia remaja atau usia di atas 30 tahun. Kelahiran premature pada umumnya terjadi pada anak usia remaja. Hal tersebut dapat terjadi karena kurang matangnya organ reproduksi, gizi buruk, kurang perawatan selama periode prakelahiran, atau karena kondisi ekonomi-sosial yang rendah. Sedangkan pada ibu yang berusia di atas 30 tahun kadang-kadang dapat menimbulkan down syndrome, yaitu keterbelakangan mental.
- Status gizi. Kondisi gizi ibu yang sedang hamil dan menyusui dapat mempengaruhi kondisi bayi. Gizi buruk pada ibu dapat mengakibatkan berat badan bayi rendah, kurang vitalitas, lahir premature, atau mungkin meninggal.
- Keadaan dan ketegangan emosional ibu. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang cemas cenderung menangis lebih banyak sebelum diberi makan dan lebih aktif dibandingkan bayi yang dilahirkan oleh ibu yang kurang cemas. Bayi yang lahir melalui proses kelahiran yang cukup lama akan mengalami kelambatan penyesuaian diri dengan lingkungan serta lebih mudah marah.
- Konsumsi obat-obatan. Obat-obatan, alkohol, rokok yang dikonsumsi oleh ibu yang sedang hamil dapat mempengaruhi kesempurnaan janin (cacat fisik janin, keterbelakangan mental, atau menyebabkan kematian janin dan bayi).
- Faktor lingkungan. Polusi udara akibat gas buang yang semakin pekat dari kendaraan bermotor, zat-zat yang terdapat pada cat dinding, atau zat-zat yang berasal dari limbah dapat menyebabkan keterbelakangan mental pada janin atau bayi, kelahiran prematur, mengalami gangguan visual serta memori jangka pendek.

Feb17
Di dalam sebuah keluarga, sosok ayah biasanya lebih ditakuti oleh anak dibandingkan sosok ibu. Walaupun pada kenyataannya seringkali ibu tampak lebih galak dan cerewet dibandingkan dengan ayah, namun anak tetap saja merasa lebih takut pada ayah.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Timbulnya perasaan takut pada ayah seringkali dikesankan oleh orang disekitarnya bahwa ayah akan marah atau mungkin mukul kalau anak tidak nurut atau nakal. Oleh karena itulah, banyak anak yang akan merasa ketakutan apabila perilaku buruknya dilaporkan kepada sang ayah.
Sebagai orang dewasa, perlu kita sadari bahwa memengaruhi anak supaya takut pada sang ayah adalah tindakan yang kurang bijaksana. Hal tersebut dapat merusak ikatan batin antara anak dengan ayah. Anak akan menjauh dan tidak mau dekat dengan ayahnya, padahal untuk menjadi orang yang sukses, seorang anak bukan saja memerlukan peran dan figur dari ibu saja, tetapi juga dari ayah.
Banyak hal dapat memengaruhi kesuksesan anak yang berasal dari peran ayah. Misalnya, dalam membangun jiwa kepemimpinannya, sikap disiplin, tegas, dan tanggung jawab. Semua itu umumnya berasal dari karakter sang ayah.
Oleh sebab itu, agar kesan negatif ayah seperti di atas tidak terus melekat di benak anak, ayah perlu melakukan beberapa pendekatan positif kepada anak, diantaranya adalah dengan cara selalu menjaga komunikasi, menjadi sahabat, menghargai pendapat anak, memenuhi kebutuhan anak, dan bermain bersama anak (dr. Maya & Wido, 2006).
Ayah yang selalu melakukan tindakan positif terhadap anak, seperti memperhatikan, memberikan apa yang dibutuhkan anak, meluangkan waktu untuk bermain bersama anak, dan menghargai pendapat anak, akan mampu membuat diri anak mencintai sosok ayah. Ia akan menjadikan sosok ayah sebagai idola dan teladan dalam hidupnya. Dengan demikian, sikap positif yang ada pada diri ayah tanpa sadar akan tertular pada anak. Ia akan menjadi orang yang sukses, bijaksana dan dapat mengharagai orang lain. (yer).

Feb14
Setiap anak memiliki kelebihan dan kecerdasan yang berbeda-beda. Namun sayang, tidak semua orangtua tahu bagaimana cara agar anak mampu menggali potensi yang ada dalam dirinya.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Banyak orangtua mengharapkan dan bahkan menuntut anaknya dapat berprestasi, tetapi tanpa didukung oleh sikap positif dari orangtua terhadap anak. Misalnya, orangtua lebih sering membanding-bandingkan antara kemampuan seseorang dengan sang anak yang dipandangnya kurang sukses dan selalu gagal, menyepelekan hasil karya anak dan bahkan melecehkannya walaupun kadang hanya berupa candaan. Sikap orangtua seperti itu tentu kurang bijak, tindakannya tersebut bukan saja dapat mematahkan semangat dan mematikan kemampuan anak, bahkan juga dapat melukai perasaannya.
Sebagai orangtua bijak, cobalah untuk mengubah cara pandang terhadap anak, yang asalnya negatif menjadi positif. Misalnya dengan cara menghindari memandang anak dari sisi negatifnya saja seperti mengomentari anak dari sisi kegagalannya atau dari sisi kurang usahanya saja. Segeralah beralih, gantilah cara pandang tersebut menjadi cara pandang yang positif, lihatlah anak dari sisi kesuksesannya, bakat, kemampuan dan kemenangannya. Ungkapkanlah dengan penuh cinta dan semangat pada apa yang ia miliki sebagai kelebihannya. Dengan cara seperti itu, prestasi buruk anak akan berbalik menjadi lebih baik. Ketika orangtua mengubah cara pandangan mereka ke arah positif, mereka akan mulai tersadar pada potensi yang dimilikinya. Sebaliknya, ketika orangtua selalu meamandang anak dari sisi negatif, seperti selalu memfokuskan pada kegagalan, nilai-nilai yang rendah dan usaha yang kurang, maka masalahnya hanya akan membuat segala sesuatunya bertambah buruk (Bobbi:2011). yer

Feb9
Ketika kita memperhatikan dunia anak, tampaknya masa anak-anak itu adalah masa yang selalu indah dan menyenangkan. Mereka selalu bersenang-senang dengan bermain dan hidup seolah-olah tanpa memiliki beban atau masalah. Ketika ia ingin sesuatu, mereka tinggal minta pada orangtua. Ketika kita perhatikan lebih dekat, perjalanan hidup anak sebenarnya tidak selamanya senang dan bahagia. Kadang-kadang anak juga menghadapi perjalanan hidup yang dapat membuatnya merasa sedih, kecewa, resah, dan kesal. Saat seperti inilah biasanya anak sangat membutuhkan kehadiran orangtua. Kepada orangtualah mereka berharap dapat mencurahkan segala hal yang sedang dirasakannya.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Sayangnya, tidak semua orangtua tahu dan mau mendengarkan keluh kesah anak. Adanya keterbatasan orangtua, baik dari sisi pengetahuan maupun waktu sering menyebabkan orangtua tidak dapat memenuhi harapan anak tersebut. Kadang-kadang ada juga orangtua yang tidak mau mendengarkan keluh kesah anak karena menganggap anaknya tidak dewasa, kekanak-kanakan dan membuat orangtua kesal. Misalnya, anak menjadi tidak mau pergi ke sekolah karena mengeluh sering diolok-olok teman. Orangtua banyak yang tidak tanggap terhadap masalah seperti ini. Orangtua menganggap hal itu hanya sebagai alasan saja karena ia tidak mau sekolah. Orangtua seperti ini bukannya membantu menyelesaikan masalah anak tersebut tetapi sebaliknya malah memarahi anak. Orangtua bijak tentu akan mencari tahu terlebih dahulu cerita anak yang sesungguhnya. Mungkin saja apa yang dikatakan anak tersebut adalah benar. Orangtua harus membantu anak menyelesaikan masalah itu, misalnya dengan memberitahukan hal ini kepada pihak sekolah. Dengan tindakan orangtua seperti itu, anak akan merasa aman dan berharga di mata orangtuanya.
Sejatinya, mendengarkan keluh kesah anak adalah hal yang sangat penting. Dengan mendengarkan apa yang diungkapkan oleh anak berarti orangtua memberikan waktu kepadanya. Anakpun akan terhindar mencari tempat untuk curhat dan mengadu pada orang lain yang mungkin saja dapat menjerumuskan dirinya. Berbahagialah orangtua ketika anak mau menceritakan segala keluh kesahnya kepada mereka. Mendengarkan keluh kesah anak membuat orangtua dapat dengan segera memberikan solusi yang tepat bagaimana memecahkan masalah hidup yang sedang atau yang mungkin saja terjadi kepada sang anak. Semua tanggapan, arahan, bimbingan, nasehat, dan pemecahan masalah yang diberikan orangtua kepada anak akan membuatnya menjadi lebih dewasa dalam bersikap. Selain itu, sikap baik orangtua dalam menerima keluh kesah anak akan selalu menjadi kenangan indah bagi dirinya. Anakpun akan mengenang orangtuanya sepanjang masa (Ferdinan M. Fuad, 205). (yer)

Jan26
Setiap keluarga memiliki gaya pengasuhan yang berbeda pada anak-anaknya. Ada orangtua yang terbiasa menerapkan disiplin dan peraturan secara ketat dan keras, sehingga tidak ada toleransi dalam memberikan hukuman pada anak yang melakukan kesalahan. Ada orangtua yang selalu memanjakan anaknya secara berlebihan, sehingga ketika anak melakukan suatu kesalahan mereka membiarkannya dengan alasan ‘sayang’. Ada juga orangtua yang tidak peduli pada anak, apapun yang dilakukan oleh anaknya, mereka tidak ambil pusing. Selain itu, ada juga orangtua yang selalu membimbing, memperhatikan dan selalu mendiskusikan bersama anak ketika akan menggunakan suatu aturan dalam keluarganya.
 Ilustrasi: www.123rf.com
Dari beberapa contoh kasus di atas, secara garis besar kita dapat membedakan orangtua berdasarkan gaya kepengasuhannya ke dalam empat kelompok (Aprilina:2011), yaitu:
- Orangtua otoriter. Orangtua seperti ini sering menerapkan peraturan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, kaku. Misalnya, orangtua menetapkan aturan bahwa pada jam 4 sore anak sudah harus ada di rumah, tanpa ada kompromi atau penjelasan apapun mengapa peraturan itu dibuat. Ketika anak pada jam yang telah ditentukan tersebut belum datang, hukuman pasti sudah menanti. Hukuman yang mereka lakukan boleh jadi bukan hanya omelan atau bentakan saja, tetapi boleh jadi disertai hukuman fisik seperti memukul, menjewer atau menampar.
- Orangtua permisif. Orangtua tipe ini sebaliknya dari gaya pengasuhan otoriter. Biasanya orangtua dengan pengasuhan permisif selalu mengikuti kemauan anak, sering melupakan hukuman yang seharusnya anak terima. Mereka lebih memilih memanjakan anak.
- Orangtua otoritatif. Tipe gaya pengasuhan ini adalah tipe ideal. Orangtua seperti ini cenderung memberikan bimbingan kepada anak-anaknya. Peraturan dibuat dan ditegakkan disertai dengan penjelasan dan terbuka untuk didiskusikan bersama anak-anak. Orantua tipe ini tetap tegas dan konsisten dalam menerapkan disiplin. Mereka lebih terbuka dalam mengungkapkan rasa sayangnya pada anak. Selain itu, mereka juga selalu memuji ketika anak mendapatkan prestasi atau melakukan sesuatu yang baik atau positif.
- Orangtua tak acuh. Orangtua dengan tipe ini biasanya tidak peduli pada anak, tidak memberikan bimbingan maupun rasa sayang pada anaknya. Anaknya mau berbuat apa saja, mereka tidak peduli. (yer)

|
Betul sekali teh Rani, ternyata seperti itu... Seandainya semua orangtua tahu dan memahaminya, mungkin tidak akan ada orangtua yang 'menyia-nyiakan' anaknya... ...
Subhanallah ... ilmu yang sangat bermanfaat...betul banget, Bu Yusi, seorang anak itu sangat berharga...